Menyikapi Berita & Informasi Secara Bijak dalam Pandangan Islam
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, wash-shalatu wash-shalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Setiap hari, layar ponsel kita tidak pernah berhenti berdering. Puluhan bahkan ratusan informasi datang silih berganti—mulai dari berita politik, isu sosial, hingga kabar seputar kehidupan orang lain. Informasi kini bergerak sangat cepat, namun sayangnya, kecepatan tersebut sering kali tidak sebanding dengan kebenarannya.
Sebagai seorang muslim, bagaimana seharusnya kita menyikapi arus berita yang luar biasa deras ini? Islam telah memberikan panduan yang sangat jelas agar kita tidak tersesat dalam gelombang informasi.
1. Terapkan Prinsip Tabayyun (Klarifikasi)
Jangan mudah percaya pada suatu berita hanya karena judulnya yang menarik atau yang menyebarkannya adalah teman dekat kita. Allah SWT menegaskan pentingnya meneliti informasi dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًۢا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpa suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."
Tabayyun adalah benteng pertama kita agar tidak menjadi korban maupun pelaku penyebaran hoaks.
2. Saring Sebelum Sharing
Tidak semua kabar yang kita dengar harus dibagikan kembali. Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam hadis riwayat Imam Muslim:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
"Cukuplah seseorang dikatakan berdusta jika ia menceritakan (atau menyebarkan) setiap apa yang ia dengar."
Meskipun suatu informasi itu fakta dan benar, kita tetap harus memikirkan dampaknya. Apakah informasi tersebut membawa manfaat, atau justru menimbulkan kegaduhan, adu domba, dan merusak nama baik orang lain? Jika tidak ada manfaatnya, lebih baik kita tahan.
3. Ingat Pertanggungjawaban di Akhirat
Jemari dan jempol yang kita gunakan untuk mengetik dan membagikan pesan di media sosial kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Satu tombol share pada berita palsu atau fitnah bisa mendatangkan "dosa jariyah"—dosa yang terus mengalir selama berita bohong itu dibaca dan dipercayai orang lain.
Penutup
Marilah kita jadikan media sosial dan ruang digital kita sebagai sarana untuk menyebarkan kebaikan, kedamaian, dan kebenaran. Sebelum menekan tombol share, tanyakan pada diri kita: "Apakah Allah ridha jika saya menyebarkan informasi ini?"
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga lisan, jemari, dan hati kita dari hal-hal yang tidak berguna.
Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’a laikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

0 Komentar