Ketika Cinta Tak Perlu Memecah Belah: Menemukan Esensi Maulid Sejati
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, ash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Setiap kali bulan Rabiul Awwal menyapa, ada hangat yang mengalir di dada kita. Kita teringat pada sosok yang untuknya air mata kita menetes meski belum pernah menatap wajahnya: Rasulullah SAW.
Namun, sungguh riskan ketika bulan kelahiran sang pembawa kedamaian ini justru kadang diwarnai perdebatan yang menguras energi. Ada yang merayakannya dengan lantunan selawat yang membahana, ada pula yang memilih diam karena khawatir menyalahi aturan agama. Saudaraku, mari kita renungkan sejenak dengan hati yang jernih.
Di Mana Letak Hati Kita?
Pihak yang mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam beragama melakukan itu karena cinta—mereka takut agama ini ternoda oleh hal yang tak dituntunkan. Di sisi lain, mereka yang mengumpulkan massa dan membagikan makanan di hari Maulid juga melakukannya karena cinta—mereka rindu dan ingin meluapkan rasa syukur atas hadirnya Rahmatan lil 'Alamin.
Kedua pihak ini sama-sama berangkat dari satu muara: Cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Lantas, mengapa karena perbedaan cara mengekspresikan cinta, kita justru merobek ukhuwah yang diajarkan oleh beliau?
Pengamalan yang Meruntuhkan Kesombongan
Catatan Admin:
Peringatan Maulid yang sejati bukanlah tentang seberapa megah panggung yang kita dirikan, atau seberapa merdu kitab Barzanji dan Simtuddurar kita lantunkan. Jika selawat menggema di malam hari, namun esok harinya kita masih tega menyakiti tetangga, memakan hak saudara, atau menyebarkan kebencian di media sosial, maka ada yang belum selesai dengan Maulid kita.
Nabi SAW tidak diutus hanya untuk dirayakan lahirnya, tetapi untuk diteladani akhlaknya.
Beliau yang dilempari batu di Thaif, justru mendoakan kebaikan untuk pemuda yang melemparinya.
Beliau yang dimaki dan dihina, membalasnya dengan menyuapi pengemis bulus yang buta.
Menjadikan Akhlak Sebagai "Maulid" Harian
Hadirin yang mulia, menggugah kerinduan kepada Nabi tidak cukup dengan lisan, tapi dengan tindakan:
Jadikan rumah kita tempat yang paling aman dari kata-kata kasar dan amarah, sebagaimana rumah Nabi menjadi tempat paling sejuk bagi Aisyah RA.
Jadikan perjumpaan kita dengan sesama sebagai pemicu senyum, bukan arena perdebatan yang saling mengkafirkan atau menyesatkan.
Jadikan kepedulian sosial kita nyata, menyantuni yang lemah dan menyapa yang tersisih.
Jangan biarkan iblis tertawa melihat kita berselisih tentang hukum merayakan hari lahir sosok yang justru diutus untuk menyatukan hati manusia. Mari kita ganti perdebatan dengan perbaikan akhlak. Jika Anda merayakan Maulid, buktikan celebration itu dengan kesantunan yang luar biasa. Jika Anda tidak merayakannya, buktikan ketakwaan itu dengan kepedulian dan kelembutan sikap kepada sesama.
Semoga Allah SWT menghimpun kita kelak di telaga Al-Haudz, berada di belakang barisan Rasulullah SAW, diakui sebagai umatnya yang tidak hanya pandai menyebut namanya, tetapi sungguh-sungguh meniru jejak langkahnya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Setiap bulan Rabiul Awwal tiba, kehangatan menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW senantiasa hadir di tengah masyarakat kita. Namun, tak jarang momen ini diwarnai dinamika perbedaan pendapat terkait tradisi peringatannya.
Menyikapi Kontroversi: Bid'ah vs Ekspresi Cinta
Perbedaan pandangan mengenai peringatan Maulid Nabi berkisar pada aspek landasan syariat:
Pihak yang Mengingatkan (Menolak): Berpandangan bahwa peringatan seremonial Maulid tidak pernah dicontohkan secara langsung oleh Rasulullah SAW, para sahabat, maupun generasi salafus shalih.
Oleh karena itu, mengkhususkan hari tersebut dengan ritual tertentu dikhawatirkan jatuh pada perkara bid'ah (hal baru dalam ibadah). Pihak yang Membolehkan (Mendukung): Memandang peringatan Maulid sebagai bid'ah hasanah (inovasi yang baik) atau sarana mubah.
Berlandaskan QS. Yunus: 58 untuk bergembira atas rahmat Allah (Rasulullah sebagai rahmatan lil 'alamin) dan QS. Al-Ahzab: 21 untuk meneladani beliau, peringatan ini dinilai sebagai ekspresi rasa syukur dan cinta (mahabbah).
Secara umum, Ormas Islam besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) merayakannya dengan tradisi pembacaan kitab sirah dan selawat, sementara Muhammadiyah memandangnya sebagai perkara ijtihadiyah/mubah yang dipfokuskan pada penguatan dakwah, pengajian sirah, dan amal sosial tanpa seremonial berlebihan. Perbedaan ini sejatinya ada pada ranah metodologi dakwah dan bentuk ekspresi, bukan pada esensi kecintaan kepada Rasulullah.
Pengamalan Amaliyah Maulid di Masyarakat
Di tengah masyarakat Indonesia, momentum ini dihidupkan melalui berbagai amalan positif:
Pembacaan Sirah Nabi & Selawat: Membaca kitab karangan ulama seperti Barzanji, Simtuddurar, atau Diba' untuk memupuk mahabbah dan mengenalkan sejarah perjuangan Nabi.
Pengajian & Tabligh Akbar: Menjadikan majelis sebagai sarana mentadabburi akhlak Rasulullah agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sedekah & Silaturahmi: Menyediakan makanan, santunan anak yatim, dan mempererat tali persaudaraan antarwarga.
Substansi di Atas Seremonial
Keindahan peringatan Maulid tidak diukur dari seberapa meriah perayaannya, melainkan seberapa besar perubahan akhlak kita setelahnya.
Mari kita jaga ukhuwah islamiyah dengan saling menghormati perbedaan pendapat, serta menjadikan momen ini untuk menyatukan hati di bawah naungan sunnah dan akhlak mulia Nabi Muhammad SAW.

0 Komentar