SEMPAT PUKUL MEJA? KEJADIAN ITU BENAR

 SEMPAT PUKUL MEJA? KEJADIAN ITU BENAR dan terekam dalam rapat resmi.


Bukan hoax Tribun, tapi memang terjadi di rapat terakhirnya.
Ini kronologinya sesuai video sidang DPD RI Komite IV, Senin 14 September 2026 pagi (hanya beberapa jam sebelum beliau dicopot):
FAKTA RAPAT TERAKHIR:
Pak Purbaya Yudhi Sadewa sedang rapat gabungan dengan DPD, Bappenas, dan Bank Indonesia membahas RUU APBN 2027. Di t
engah paparannya, beliau meledak kesal.
Penyebab beliau pukul meja:
1. Ada perusahaan asing (disebut pengusahanya dari China, tapi operasi di Indonesia) yang main curang. Mereka jualan baja dan produk lain secara cash basis - jual langsung cash ke klien biar tidak terdeteksi sistem pajak.
2. Tidak bayar PPN. Potensi kerugian negara dari 1 perusahaan saja bisa Rp4 Triliun per tahun, kata Pak Purbaya. Mereka jual tapi tidak setor PPN.
3. Meremehkan & Menghina Aturan Indonesia. Ini yang bikin beliau paling kesal. Kata Pak Purbaya, perusahaan itu terang-terangan bilang: _"Tidak ada gunanya ikut peraturan di Indonesia, semua bisa diselesaikan dengan bayar orang."_
Mereka menganggap hukum Indonesia bisa dibeli.
Makanya Pak Purbaya bilang: _"Saya merasa dihina"_ dan gesturnya memukul meja sambil berkata: _"Saya akan sikat. Tidak ada toleransi!"_
---
TULISAN EDUKASI DARI KEJADIAN INI
JUDUL: Meja Dipukul, Bukan Orang - Ketika Seorang Menteri Tersinggung Demi Harga Diri Bangsa
Banyak orang lihat videonya lalu fokus ke "pukul mejanya". Padahal yang lebih penting adalah kenapa beliau sampai harus pukul meja.
Ini bukan soal emosi, ini soal harga diri.
1. Pajak adalah Harga Diri Bangsa.
Perusahaan asing itu datang ke Indonesia, pakai jalan kita, pakai listrik kita, pakai pekerja kita, tapi saat disuruh bayar pajak malah bilang "aturan Indonesia tidak berguna".
Kalau kita diam, kita yang rugi. Uang PPN Rp4 Triliun itu bisa untuk bangun berapa ribu sekolah di Sumatera Barat? Bisa untuk berapa beasiswa MABA seperti anak kita yang tergolong ekonomi menengah ke bawah?
Pak Purbaya marah bukan karena benci asing, tapi karena dia sayang negara.
2. Jangan Bangga Jika Lolos Pajak, Itu Bukan Pintar, Itu Merugikan Tetangga.
Di sekitar kita juga banyak yang bangga "Saya bisa akali pajak". Padahal perusahaan asing yang cash basis itu contoh buruknya. Mereka kaya sendiri, tapi kas negara kosong. Akhirnya yang susah siapa? Kita juga, karena subsidi dicabut, harga naik.
Edukasi untuk kita semua: Taat pajak bukan soal takut petugas, tapi soal gotong royong.
3. Marah yang Benar, di Tempat yang Benar.
Pak Purbaya tidak maki-maki orangnya di medsos. Beliau marah di forum resmi, di depan DPD, dengan data. Pukul meja sebagai simbol ketegasan, bukan kekerasan.
Ini pelajaran untuk kita: Kalau merasa dihina, jangan balas dengan hinaan di Instagram Story. Bawa ke forum yang benar, dengan data dan solusi.
Hari itu beliau pukul meja untuk membela aturan Indonesia. Sore harinya, jabatannya berakhir lewat satu telepon. Tapi ketegasannya menolak perusahaan yang menghina Indonesia itu akan tetap diingat.
Karena jabatan bisa selesai dalam 1 telepon, tapi keberanian membela negara tidak akan pernah dicopot.
***
Nah ini... orang pintar pasti sudah bisa menebak apa alasan sampai dia di copot, terlalu berani bela negara.

Posting Komentar

0 Komentar